Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), terhitung hingga tahun 2021, massa sampah di Indonesia mencapai 68,5 juta ton. Pesantren yang jumlahnya mencapai 36.600 di Indonesia dengan 3,4 juta santri—menurut data kemenag.go.id —, tentunya turut berkontribusi terhadap timbulan sampah tersebut. Di sisi lain, banyaknya santri sebagai penghasil sampah ini juga merupakan potensi besar untuk dapat turut berpartisipasi aktif mengelola sampah.

Pesantren Al Hikam Kota Depok merupakan salah satu pesantren mahasiswa yang berlokasi di Kecamatan Beji Depok, Jawa Barat dan dihuni oleh 265 jiwa. Pesantren ini setiap harinya menghasilkan 33.6 kilogram sampah organik yang 41.8 persen terbuang sia-sia. Sampah organik yang dihasilkan didominasi oleh sisa makanan yang semestinya dapat dikelola kembali.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Program Studi Teknik Lingkungan (PSTL) Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI), Dr Cindy Rianti Priadi dan tim, berkolaborasi dengan Pimpinan Pesantren untuk instalasi dan operasional alat yang mampu mengolah sampah organik. Alat ini merupakan hasil riset yang telah dipaten, yakni Toren Biogas (Torbi). Torbi merupakan salah satu inovasi dari teknologi anaerobic digestion yang dapat menghasilkan produk berupa pupuk dan biogas yang dapat dimanfaatkan untuk memasak.

Kerja sama ini telah berlangsung selama lebih dari satu tahun. Setelah fase instalasi dan operasional oleh PSTL FTUI, Torbi kini stabil dan siap untuk dioperasikan oleh pesantren secara mandiri. Untuk mendukung operasional yang berkelanjutan, tim PSTL FTUI kembali melakukan sosialisasi dan edukasi pada pimpinan dan para santri pada Sabtu lalu (23/09), Sosialisasi dan edukasi ini turut dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan peneliti dari PSTL FTUI serta pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Depok, KH Muhammad Yusron Shidqi.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa di pondok pesantren dapat melihat miniatur Torbi, memahami desainnya, dan memahami prosesnya. Tim dari PSTL FTUI juga menjelaskan jenis sampah yang diperbolehkan dan yang tidak boleh dimasukkan ke dalam Torbi.

“Sampah yang dapat masuk ke dalam Torbi banyak macamnya, maka dari itu kita hanya perlu mengingat sampah yang tidak boleh masuk ke dalam Torbi, di antaranya sampah organik yang memiliki bentuk padat (tulang ayam dan tulang ikan), bentuk keras (ranting pohon, bonggol jagung, kulit buah), plastik, air sabun, memiliki kandungan lignin (bonggol pisang, kulit pisang, daun pisang),” kata Ayik Abdillah, ST, MSc, dosen PSTL FTUI yang tergabung dalam tim.

”Inovasi Torbi mampu menghasilkan biogas berkualitas tinggi. Dengan instalasinya, Pesantren Al Hikam telah memulai langkah besar menuju keberlanjutan lingkungan. Kegiatan ini menekankan pentingnya pengelolaan limbah, dan dengan pemahaman yang kuat dari peserta, diharapkan akan ada perbaikan signifikan dalam menjaga lingkungan pesantren. Kegiatan ini juga merupakan komitmen FTUI untuk mengkampanyekan teknologi hijau dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari prinsip- prinsip kearifan hidup dan maqashid syariah,” kata Dekan FTUI, Prof Dr Heri Hermansyah, ST, MEng, IPU.

Sementara itu, KH Muhammad Yusron Shidqi, pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Depok, Jawa Barat, mengatakan, “Pesantren memiliki pengaruh besar dalam arah pembangunan manusia. Dengan program ini, diharapkan Pesantren Al Hikam Kota Depok mampu mengolah sampah organik secara mandiri dan tepat guna memenuhi visi misi pesantren.” Hal ini menunjukkan bagaimana kolaborasi ini tidak hanya memberikan manfaat praktis dalam pengelolaan sampah, tetapi juga sejalan dengan visi pesantren untuk berkontribusi pada pembangunan manusia yang berkelanjutan.

Torbi menggunakan anaerobic digestion untuk menghasilkan biogas berkualitas tinggi yang dapat digunakan untuk memasak. Torbi mengalami proses hidrolisis yang dilanjutkan dengan proses asidogenesis dan asetogenesis yang akan menghasilkan senyawa asam sebagai bahan makanan bakteri metanogen dalam memproduksi gas metana. Selanjutnya, proses metanogen terjadi sebagai proses konversi senyawa asam menjadi gas metana yang dapat dipakai sebagai bahan bakar.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan PSTL FTUI, biogas yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik mampu menghasilkan kandungan CH4 yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk memasak menggunakan kompor khusus biogas.